Rabu, 06 April 2011

makalah fitrah manusia

BAB I
PENDAHULUAN
Manusia diciptakan  Allah dalam struktur yang paling baik diantara makhluk Allah yang lain, struktur manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani atau unsur fisiologis dan psikis. Manusia dilahirkan dengan membawa fitrah-fitrah tertentu. Fitrah berarti kekuatan terpendam (laten) yang ada dalam diri manusia, dibawa semenjak lahir dan akan menjadi daya pendorong bagi kepribadianya.
Seperti yang tercantum didalam firman Allah SWT,
 maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan selurus-lurusnya (sesuai dengan kecenderungan yang aslinya) itulah fitrah Allah yang Allah mencepatkan   manusia di atas  fitrah itu. Itulah agama yang lurus, namun kebanyakan orang tidak mengetahuinya” .( QS ar Rum :30)
Sabda Rasullah SAW :
tiap-tiap anak dilahirkan diatas fitrah maka ibu dan ayahnya lah yang mendidiknya menjadi orang yang beragama yahudi, nasrani, dan majusi” (HR, Bukhari).
Melanjut pembahasan tentang pengertian fitrah dalam makalah ini mencoba menguraikan sedikit tentang fitrah manusia menurut ajaran islam berdasarkan kutipan-kutipan dari berbagai sumber.








BAB II
PEMBAHASAN
FITRAH MANUSIA MENURUT AJARAN ISLAM

1.      Fitrah Manusia
Fitrah manusia diantaranya adalah:
·        Kebebasan
Diantara kenikmatan yang kita rasakan dalam hidup ini ialah kebebasan. Allah tidak mengabaikan fitrah manusia, Allah menghargai kebebasan manusia. Firman Allah : “Tidak ada paksaan dalam agama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah” (QS. Al Baqarah : 256).
Islam menghargai fitrah manusia berupa kebebasan. Islam menghargai kebebasan. Islam bukanlah suatu aturan yang dipaksakan, tetapi aturan-aturan Islam diciptakan dengan memperhatikan fitrah manusia, antara lain kebebasan.
·        Hanif
Hanif artinya : kecenderungan dan kerinduan kepada yg serba agung, mulia dan suci (yg benar, yg baik, indah, adil, lurus). Manusia pada kodrat dan fitrahnya mencintai kebaikan dan cenderung kepadanya. Tidak ada manusia yg mencintai kejahatan dan cenderung kepadanya.


”Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakannya, mereka mempunyai mata tapi tidak dipergunakannya untuk melihat,mereka mempunyai telinga tapi tidak digunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yg lalai”. (QS : Al A’raaf : 179).
·        Manusia Adalah Makhluq Individu Yang Bermusyawarah
Sudahlah pasti dan dapat dimaklumi, bahwa seorang manusia tidak mungkin bisa hidup tanpa berhubungan dengan orang lain. Dalam hidupnya manusia mempunyai dua jalur hubungan (komunikasi), yakni hubungan dengan Tuhan (habluminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (habluminannas). Sebenarnya, keduanya merupakan satu kesatuan.
1.      Hablumminallah
Hablumminallah adalah hubungan dengan Allah. Bentuk hubungan seorang manusia dengan-Nya ialah ibadah-ibadah khusus, yang cara-caranya sudah ditentukan
2.   Hablumminannas
Hablumminannas ialah hubungan antar manusia. Hubungan antar sesama manusia ini sering diungkapkan dalam bentuk aturan-aturan kehidupan (hukum-hukum kemasyarakatan). Hukum Allah ditetapkan oleh Allah sendiri, sedangkan hukum antar sesama manusia ini ditetapkan atas kesepakatan bersama. Munculnya hukum ini boleh atas persetujuan formal, boleh tidak; boleh tertulis, boleh pula tidak tertulis. Sudah barang tentu, hukum buatan manusia ini tidak diperkenankan bertentangan dengan hukum Allah untuk manusia.
Khusus untuk hukum antar manusia, metoda musyawarah merupakan hal yg disukai Allah. ”Dan (bagi) orang-orang yg menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawrah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka”. QS Asy Syuura : 38).
·         Manusia Makluq Pengabdi
Dan bila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya; kemudian bila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripadaNya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya”. (QS. Ar Ruum : 33).
·         Manusia Ciptaan Yang Terbaik
Firman Allah :“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yg baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yg sempurna atas kebanyakan makhluq yg telah Kami ciptakan” (QS. Israil : 70).
Sesungguhnya Kami menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. A Tiin : 4).
·        Manusia Khalifah di Muka Bumi
Firman Allah Swt. : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi …………..” (QS. Al Baqarah : 30).

Khalifah artinya wakil, khalifah Allah berarti wakil Allah. Dengan fitrah-fitrah yang telah saya uraikan diatas dan melaksanakannya, maka pantaslah manusia menyandang predikat sebagai khalifah Allah.
Sesuai dengan fungsinya ini (khalifah) di bumi, maka oleh Allah telah ditundukkanlah segala makhluq yang lain kepada manusia.

2.      Agama Memenuhi Tuntutan Fitrah
Fitrah ada kalanya tertutup atau hilang oleh  sebab  tertentu. Oleh sebab itu, fitrah menghendaki pengembangan seperti fitrah intelelek, jika di kembangkan manusia akan menjadi pintar, tetpi sebaliknya, jika tidak dikembangkan  akan menjadi bodoh. Begitu pula dengan keadaan fitrah-fitrah yang lain. Sehubugan dengan fitrah agama ini, A. Saboe mengatakan bahwa tiap-tiap orang wajib mempunyai agama, satu-satunya sifat manusia yang dapat membedakanya dari hewan.
Fitrah adalah kemampuan dasar atau pembawaan, suatu kemampuan dasar yang dimiliki manusia yang dianugrahkan dari Allah  SWT, didalamnya terkandung berbagai  komponen   yg saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainya.
Menurut H . M . Arifin (2000 : 93) komponen-komponen potensi tersebut adalah:
1.      Kemampuan dasar untuk beragama islam
2.      Bakat
3.      Insting atau naluri
4.      Nafsu
5.      Hereditas atau sifat turun temurun
6.      Karakter
Dalam unsur-unsur ini Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan berkarya yang disebut potensialitas, yang menurut pandangan islam dinamakan “fitrah”.

3.    Kebutuhan Manusia Terhadap Agama
Untuk mengetahui kebutuhan manusia terhadap agama dapat dilihat antara lain dari segi kebutuhan fitrah manusia, kemudian menggabungkannya dengan apa yang diberikan agama bagi pemenuhan kebutuhan tersebut. manusia secara  umum memiliki dua kebutuhan, pertama, kebutuhan spiritual dan yang kedua, kebutuhan material. Murtada Muthahari berkesimpulan, bahwa pada hakekatnya agama memilik dua keistimewaan, yaitu agama sebagai kebutuhan fitri dan emosional manusia. Ia juga merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan fitri manusia,  yang kedudukanya tidak dapat digantikan  untuk apapun, dengan demikian sesungguhnya kebutuhan manusia terhadap agama pada umumnya dan pada islam khususnya, bukanlah merupakan kebutuhan sekunder (sampingan atau pelengkap), melinkan kebutuhan primer (dasar) yang berhubungan erat dengan substansi kehidupan manusia.
Beberapa pemikir memberikan pendapatnya berkenaan dengan kebutuhan manusia terhadap agama, anatara lain:
·         Hendry Bergson, bahwa agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, sebab agama merupakan keharusan esensial yang senantiasa menyertai manusia dalam kehidupanya, rasa keagamaan akan muncul sebagai naluri hidup.
·          Carl Gustav Jung, bahwa agama sebagai kebutuhan psikis manusia yang mengisi kekosongan batin, memenuhi tuntutan hidup, serta merupakan kebutuhan jiwa manusia. Agama yang diyakini kebenaranya akan  memproyeksi dan memeberi rasa aman bagi pribadi penganutnya.
·         Ernest Renan, naluri beragama dalam diri manusia tidak pernah hilang, malahan akan tetap menjadi argumentasi yang kokoh dalam menghadapi ideologi-ideologi materealis yang mencoba mengurung akal pikiran  manusia hanya pada medan kehidupan duniawi yang amat sempit.
·         Farid Wajdi, naluri beragama memang tidak mungkin dilenyapkan, sebab merupakan naluri yang paling tinggi dan mulia yang ada dalam jiwa manusia.

Fungsi agama:
·          Agama memberi makan rohani.      
·         Agama menanggulangi kegelisahan hidup.
·         Agama memenuhi tuntutan fitrah.
·         Agama mengatasi keterbatasan akal dan tantangan hidup.

4.       Pengembangan Fitrah                        
Fitrah manusia sebagai anugerah Allah yang tidak ternilai harganya itu harus dikembangkan agar manusia dapat menjadi manusia yang sempurna (insan kamil). M Natsir menyebutkan bahwa pengembanga fitrah adalah salah satu tugas risalah yang diemban untuk nabi Muhammad SAW.
Setiap usaha pengembangan fitrah itu harus dilaksanakan secara sadar, berencana dan sistematis.
Berkembang atau tidaknya fitrah itu tergantung kepada dua faktor:
1.         Usaha manusia sendiri.
2.         Hidayah (petunjuk) Allah SWT
Hidayah Allah dalam rangka pengembangan fitrah ada  beberapa macam:
1.         Hidayah Aql   (akal)
2.         Hidayah Qalb (hati)
3.         Hidayah Din  (agama)




BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Pada hakekatnya, dalam diri manusia ada fitrah untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Nurani manusia selalu merindukan kedamaian dan ketenangan. Jauh di dalam lubuk hati manusia, pada dasarnya selalu ada kerinduan untuk terus menerus mengikuti jalan agama yang benar. Inilah fitrah manusia yang sesungguhnya, fitrah yang diajarkan Islam.
Islam menegaskan bahwa manusia itu pada dasarnya baik.  Pelihara saja dasar itu, tidak usah ditambahi dan dikurangi. Meminjam istilah Dante Alegieri dalam bukunya Divina Comedia, menurut Islam manusia itu dilahirkan dalam fitrah yang suci.  Sehingga seorang bayi, hidup dalam alam paradiso (kalau mati dalam Islam dianggap langsung masuk ke surga). Dalam perkembangan selanjutnya—dalam istilah keagamaan—karena kelemahannya sendiri, sang bayi yang tumbuh pelan-pelan menjadi dewasa ini lalu tergoda, karena tarikan kehidupan dunia, sehingga sedikit demi sedikit ia masuk ke alam inferno: “neraka dunia” (metafor untuk mereka yang menjauhi diri dari suara hatinya yang suci).

2.      Referensi
http://didijunaedihz.wordpress.com/2008/02/08/fitrah-manusia/
Drs. Murip Yahya. MPd. Pengantar Pendidikan, Bandung, Prospect, 2008
Prof. Dr. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakrta Pusat, Kalam Mulia, 1998.
Drs. Muhammad Alim, M.Ag, Pendidikan Agama Islam, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2006.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar